Arti Kawula Mung Saderma, Mobah Mosik Kersaning Hyang Sukmo

Kawula Mung Saderma, Mobah Mosik Kersaning Hyang Sukmo

Kawula Mung Saderma, Mobah Mosik Kersaning Hyang Sukmo (Pexels.com/Zeynep Sena Açar)

Arti Kawula Mung Saderma, Mobah-Mosik Kersaning Hyang Sukmo adalah lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan.

Kalimat di atas adalah salah satu dari kata mutiara dalam Bahasa Jawa yang cukup populer digunakan sejak zaman dahulu.

Kata mutiara Jawa merujuk pada ungkapan bijak atau pepatah dalam bahasa Jawa yang mengandung makna mendalam dan nilai kehidupan.

Baca juga: Apa Arti Nuladha Laku Utama? Ini Jawaban dan Penjelasannya

Kata mutiara Jawa sering kali menggambarkan kearifan lokal, etika, dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sama halnya seperti kalimat di atas, Kawula Mung Saderma, Mobah-Mosik Kersaning Hyang Sukmo mengandung pesan bahwasanya kita harus tetap berusaha dan tawakkal kepada Tuhan Sang Pencipta.

Kita tidak boleh pasrah tanpa usaha. Tapi, kita diajarkan untuk selalu berjuang, berusaha semampu kita. Setelahnya, biar Tuhan yang menentukan.

Kata mutiara Jawa biasanya menggunakan bahasa Jawa Kuno atau bahasa Jawa yang khas, sehingga memunculkan nuansa tradisional dan budaya Jawa yang kental.

Kata-kata mutiara ini sering kali diucapkan dalam bentuk pantun atau gending yang terkesan indah dan puitis.

Makna yang terkandung dalam kata mutiara Jawa bisa beragam, mulai dari nasihat kehidupan, nilai-nilai moral, hingga pandangan tentang cinta, persahabatan, dan kesuksesan.

Kata mutiara Jawa sering digunakan sebagai pedoman atau refleksi bagi orang-orang Jawa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Selain mengandung nilai-nilai kehidupan, kata mutiara Jawa juga mencerminkan keindahan bahasa Jawa dan seni sastra tradisional Jawa.

Baca juga: Pengertian Wangsalan, Sandiasma, Candrasengkala, dan Purwakanthi dalam Sastra Daerah

Kata-kata yang terpilih dan dikemas dengan indah menggambarkan kepekaan seni yang tinggi dalam budaya Jawa.

Kata mutiara Jawa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya Jawa. Tidak hanya diucapkan dalam situasi formal, tetapi juga diintegrasikan dalam percakapan sehari-hari untuk memberikan nasihat atau memotivasi orang lain.

Sehingga, kata mutiara Jawa menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan yang berharga bagi masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.

Baca juga: Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

Beberapa contoh kata mutiara Jawa lainnya yang terkenal antara lain:

"Ora usah dipikirake, sing penting dijalani" - Jangan terlalu dipikirkan, yang penting dijalani. 

"Urip iku mung mampir ngombe" - Hidup itu hanya singgah minum.

"Dadi wong lanang wani, dadi wong wedok madu" - Jadilah laki-laki yang berani, jadilah perempuan yang lembut.

"Taksih luwih murah urip mulang pisan lan cepet" - Lebih baik hidup sederhana tapi berbahagia dan cepat kembali ke asalnya.

"Podo wae nglakoni, podo wae nampa" - Sama-sama menjalankan, sama-sama menerima.