Blog

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 kembali digelar sebagai ruang untuk memperkuat pelestarian bahasa, sastra, seni, dan budaya Using di Banyuwangi.

    Mengangkat tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, kegiatan ini menekankan pentingnya penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai bagian dari pembentukan adab serta budi luhur generasi muda.

    Festival tersebut digelar di Panggung Kreatif Gesibu Blambangan, Sabtu, 5 September 2026.

    Sebanyak 450 murid SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, mengikuti rangkaian perlombaan yang diselenggarakan dalam festival tersebut.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Bahasa Ibu yang secara nasional digelar di 19 provinsi.

    Di Jawa Timur, kegiatan literasi bahasa ibu mencakup Bahasa Using dan Bahasa Madura yang dilaksanakan di tujuh kabupaten.

    Selain itu, juga mulai dirintis kegiatan bahasa di wilayah sekitar Sidoarjo dan Gresik.

    Untuk tingkat Jawa Timur, seluruh rangkaian kegiatan akan digelar pada Oktober mendatang di Balai Bahasa Jawa Timur, Surabaya.

    Juara pertama dari masing-masing kategori atau cabang lomba akan melanjutkan kompetisi di tingkat tersebut.

    Khusus untuk Bahasa Using, para juara secara otomatis menjadi wakil Jawa Timur dalam Festival Bahasa Ibu di Jakarta.

    Para pemenang juga memperoleh apresiasi berupa sertifikat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen).

    Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendukung dalam SPMB melalui jalur prestasi.

    Dalam Festival Literasi Bahasa Using 2026, peserta mengikuti tujuh cabang lomba sesuai petunjuk teknis (juknis) nasional.

    Pelaksanaan lomba ditempatkan di 14 kelas di SDN Kepatihan. Ketujuh cabang tersebut meliputi aksara, nembang, geguritan, dongeng cerita, ngewer, nulis cerita, dan pidato.

    Selain tujuh cabang lomba tersebut, panitia juga menghadirkan inovasi mandiri berupa Memengan Teater untuk jenjang SD dan Mocoan Lontar untuk jenjang SMP.

    Kabid SD Dispendik, Drs. Sutikno, menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi wadah kreativitas dan prestasi yang lahir dari proses pembelajaran di sekolah.

    Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepedulian Pemerintah Daerah terhadap pelestarian dan pengembangan Bahasa Using.

    Jika pada tahun sebelumnya festival mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tahun ini tema yang dipilih berfokus pada penghormatan terhadap orang tua dan guru.

    Pesan tersebut menjadi penting untuk memperkuat adab dan budi luhur di tengah tantangan kebiasaan penggunaan gawai pada era digital.

    Festival dibuka oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Pembukaan ditandai dengan prosesi tarik janur Kopat bersama Muspida serta basanan bersama para murid.

    Ipuk mengungkapkan bahwa festival tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan budaya literasi dengan budaya kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

    Suasana festival juga semakin semarak dengan penampilan tari dari siswi SMP Negeri 2 Rogojampi yang telah meraih prestasi tingkat nasional.

    Penampilan tersebut diiringi gamelan Wiyogo Lare dari Sanggar Sayu Wiwit Aliyan dan tampil atraktif serta memukau para penonton.

    Rangkaian kegiatan juga diisi doa yang dipimpin Dr. H. Fathurahman dari Kemenag serta santunan kepada yatim piatu.

    Doa dan santunan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar serta harapan kepada Gusti Pengeran agar festival tahunan tersebut berjalan lancar dan mendapatkan keberkahan.

    Setelah melalui proses penampilan dan penilaian, peserta dinilai oleh juri dari berbagai latar belakang.

    Mereka berasal dari kalangan seniman dan budayawan, di antaranya Dewan Kesenian Blambangan, Sengker Kuwung Blambangan, Pesinauan Kemiren, serta Sanggar Merah Putih ’45.

    Selain itu, terdapat wartawan Sastrawacana Jurnal News, radio komunitas JRKBB-JRKI, youtuber, Koppiwangi, tutor PKBM Koppat, akademisi bidang sastra dan budaya, serta guru madrasah yang memiliki karya dan prestasi juara.

    Juri Festival Literasi Using 2026

    Penilaian juga melibatkan unsur guru KKG dan MGMP Bahasa Using SMP yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan materi lomba dari para ahli.

    Pembekalan tersebut difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Dari proses tersebut kemudian terpilih lima besar pada setiap cabang lomba yang langsung diumumkan.

    Para juara berasal dari berbagai wilayah Banyuwangi, mulai Pesanggaran, Purwoharjo, Cluring, Sempu, Songgon, Singojuruh, Srono, Blimbingsari, Kalipuro, Glagah, Kabat, hingga wilayah kota.

    Kemenangan juga diraih sejumlah sekolah swasta yang berhasil menjadi juara pertama.

    Dengan capaian tersebut, mereka berhak melanjutkan ke tingkat Jawa Timur di Surabaya sekaligus memperoleh tambahan pembinaan.

    Salah satu peserta, Arayo asal Desa Kebo-Keboan, Alasmalang, yang bersekolah di SMPN 3 Rogojampi, mengungkapkan rasa syukurnya setelah kembali meraih prestasi.

    “Alhamdulillah tahun lalu juara pidato dan tahun ini juara lawakan ngewer. Kesuwun guru hang bimbing lan emak hang dungo ugo kanca-kanca kabeh!,” ungkap Arayo.

    Sementara itu, juri Mocoan, Slamet Nyamsul Diharjo, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut yang dinilainya dapat menjadi bagian dari kaderisasi untuk menjaga keberlanjutan seni, budaya, adat, dan tradisi leluhur.

    “Kesuwun dikanggoaken kaderisasi ngelestariaken seni budaya adat tradisi leluhur!,” tutur Slamet Nyamsul Diharjo.

    Hal senada disampaikan Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag., guru MTsN 1 Banyuwangi yang selama dua tahun berturut-turut terlibat sebagai juri geguritan.

    Ia mengaku senang dapat berkolaborasi dengan penyair yang memiliki karya dan prestasi di bidang baca puisi Jawa Timur.

    “Senang sudah 2 tahun ini jadi juri geguritan undhorasa bareng penyair yang punya karya dan prestasi baca puisi jatim!” kata Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag.

    Nuchbah sendiri merupakan guru yang juga aktif berkarya di bidang puisi. Karya puisinya telah masuk dalam antologi ASEAN.

    Ia juga pernah meraih juara 1 baca puisi Radar Banyuwangi untuk kategori guru.

    Melalui Festival Literasi Bahasa Using 2026, pelestarian bahasa ibu tidak hanya ditempatkan sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, meraih prestasi, sekaligus memperkuat karakter melalui bahasa, sastra, seni, dan kearifan lokal.

    (Aguk Wahyu Nuryadi/Yechot)

  • Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Kerawitan Joko Ismoyo akan menggelar ruwatan massal sebagai ikhtiar bersama untuk saling mendoakan pribadi, keluarga, komunitas, hingga lembaga dan instansi.

    Kegiatan yang rencananya akan dilangsungkan pada 18 November 2026 tersebut diharapkan menjadi momentum menghadirkan aura positif, menjauhkan diri dari sengkala, sekaligus memperoleh kedamaian bagi para sukerta atau mereka yang dipercaya membawa bawaan tertentu sejak lahir.

    Ruwatan akan dipimpin oleh dalang Ki Gondo Bawono, kelahiran 1945 asal Tapanrejo, Kecamatan Muncar.

    Ia akan didampingi sinden sekaligus penyiap umbo rampe ritual, Hj. Soeswati (72), yang juga berprofesi sebagai perias pengantin.

    Soeswati dikenal kuat dalam tirakat serta memahami filosofi berbagai kebutuhan dalam rangkaian ikhtiar untuk menyingkirkan energi negatif.

    Ketua Paguyuban Joko Ismoyo, Ki Mudjiono (78), mengatakan gagasan untuk menggelar ruwatan massal tersebut sebenarnya telah muncul sejak empat hingga lima tahun lalu.

    Namun, niat tersebut baru akan diwujudkan tahun ini dengan membawa semangat kepahlawanan Bung Tomo dan Perang Puputan Bayu.

    Kegiatan dijadwalkan pada jam kerja, bertempat di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

    Pelaksanaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Hari Jadi Banyuwangi ke-255 yang jatuh tepat satu bulan setelah pelaksanaan ruwatan.

    “Maturnuwun dukungan sesama penggemar wayang dan kerawitan serta Disbudpar yang tandang bareng mewujudkan niat mulia ini secara kolaborasi tanpa dana APBD. Jadi, murni dari sumbangan pribadi serta sari perorangan maupun komunitas, kantor dan perusahaan yang krenteg ikut manggayu bagyo,” tutur Ki Mudjiono.

    Ia mengatakan, pihaknya yang mayoritas merupakan kalangan sepuh menggandeng Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih ’45, serta EO Senyum Agmadina untuk mengemas kegiatan tersebut.

    Kolaborasi itu sekaligus menjadi upaya mengajak berbagai pihak berbuat untuk kebaikan Banyuwangi agar semakin harmonis dan penuh welas asih, sekaligus mendoakan Nuswantara dan Negara Indonesia.

    Ki Mudjiono yang merupakan Dewan Paripurna Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) tersebut hingga kini masih aktif melatih kerawitan dan melakukan siaran Gending Jawa di Radio Fajar FM.

    Sebelumnya, sekitar dua dekade lalu, ia juga pernah menjadi pramusiar di Radio Komunitas Bung Tomo FM.

    Sementara itu, Pembina Ruwatan Massal Nuswantara, Agus Wahyu Nuryadi, yang akrab disapa Bung Aguk Darsono, menjelaskan bahwa konsep ruwatan tetap mengikuti pakem Jawa, tetapi dikreasikan dengan mengakomodasi adat dan tradisi ngelukat Osing.

    Selain itu, rangkaian kegiatan juga akan dilengkapi dengan doa ruqyah yang dipimpin tokoh agama asal Madura serta sentuhan hipnosis Smart Parenting.

    Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk membantu mengurai berbagai aral dan mental block peserta sehingga diharapkan dapat lebih gangsar rejekinya serta membangun keluarga yang samawa dan mampu menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin.

    “Saat pembukaan akan disaksikan perwakilan suku dan etnis dari Forum Pembauran Kebangsaan binaan Bakesbangpol. Dan saat siraman dari tujuh sumber mata air, antara lain dari Sumur Sritanjung dan Masjid Kuno maupun tempat sakral lainnya, selain dalang dan sinden, juga penting disiram oleh ibu atau ayahnya seraya mohon pangestu,” tambah Bung Aguk Darsono.

    Ketua Panitia Slamet Muhlisin, didampingi Sekretaris Andre Repelita Waluyo, berharap masyarakat luas di Bumi Blambangan maupun anggota Ikawangi Nusantara dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan upaya membersihkan diri secara bersama-sama.

    Hingga saat ini, sebanyak 17 orang telah mendaftar. Panitia masih memberikan kesempatan pendaftaran hingga 10 November pukul 13.45 WIB.

    “Harapan kami peserta perorangan 33 orang dan lembaga 5-8 pihak hingga kumpulan lebih dari 40 orang, kan mustajab doanya. Kami ada form pendaftaran digital lewat aplikasi Gata. Pendaftaran ditutup bila sudah mencapai maksimal 99 pendaftar,” ujar pembaca karakter di TV Osing tersebut sambil tersenyum.

    Andre menambahkan, dalam pelaksanaan kegiatan, panitia juga menggandeng sejumlah media lokal sebagai mitramedia, yakni JRKBB-JRKI, Jurnal News, Sastrawacana, JNN Sumenep, serta Menara Madinah.com Surabaya. Selain itu, kegiatan ruwatan juga akan disiarkan secara langsung melalui YouTube BTD Channel.

    Para peserta nantinya mendapatkan bonus rekening bank dan voucher potongan biaya perjalanan umrah dari mitra panitia. Sementara bagi donatur dan sponsor, panitia menyediakan kartu nama digital melalui aplikasi Gata.

    Dalam kegiatan tersebut juga akan tersedia Bukalapak UMKM serta layanan konsultasi psikologi karakter dan spiritual adiluhung. (Qurrota A’Yunin/AWN)

  • Selasar Jejarak: Membaca Pertumbuhan Sastra Banyuwangi melalui Tiga Lanskap Penyair Beda Generasi

    Selasar Jejarak: Membaca Pertumbuhan Sastra Banyuwangi melalui Tiga Lanskap Penyair Beda Generasi

    BANYUWANGI — Sastra tidak pernah sepenuhnya terikat pada ruang geografis. Ia dapat lahir dari suatu tempat, tetapi bergerak melampaui batas-batas teritorial melalui pengalaman, ingatan, bahasa, dan imajinasi.

    Dalam konteks kepenyairan, tanah kelahiran bukan hanya latar biografis, melainkan dapat menjadi ruang kultural yang terus direkonstruksi melalui teks.

    Perspektif tersebut terasa dalam bedah buku puisi Selasar Jejarak karya Nurul Ludfia Rohmah, Muttafaqurrochmah, dan E.P. Albatiruna, yang digelar secara daring, Kamis (3/9/2026).

    Forum ini mempertemukan penyair, akademisi, pembaca, dan pegiat literasi untuk membaca karya ketiga penulis sekaligus menempatkannya dalam dinamika perkembangan sastra Banyuwangi.

    Buku tersebut menarik dibaca bukan semata karena menghadirkan tiga penyair dalam satu ruang antologi, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana pengalaman individual dapat bertransformasi menjadi pengalaman puitik.

    Di dalam puisi, pengalaman personal tidak lagi berhenti sebagai catatan biografis, melainkan mengalami proses seleksi, pengendapan, dan pengucapan melalui bahasa.

    Hadir sebagai pembedah Jack Parmin, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Siswanto, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember (Unej), serta Anton Wahyudi, dosen Universitas PGRI Jombang. Diskusi dipandu Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi.

    Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, membuka kegiatan dengan memberikan apresiasi terhadap ketiga penulis.

    Selasar Jejarak dipandang sebagai bagian dari proses pertumbuhan ekosistem sastra Banyuwangi yang ditandai oleh produktivitas penulis, penerbitan karya, serta terbentuknya ruang-ruang apresiasi dan diskusi.

    Tanah Kelahiran sebagai Ruang Kultural

    Salah satu aspek menarik dalam pembacaan Selasar Jejarak adalah hubungan antara penyair dan ruang asalnya.

    Salah satu penulis bahkan kini berada di Turki. Namun perpindahan geografis tersebut tidak serta-merta memutus hubungan kreatif dengan Banyuwangi. Sebaliknya, jarak dapat menjadi instrumen reflektif yang memungkinkan tanah kelahiran dilihat dari perspektif yang berbeda.

    Dalam konteks sastra, jarak sering kali menghasilkan paradoks. Semakin jauh seseorang meninggalkan sebuah tempat, semakin kuat kemungkinan tempat tersebut hadir sebagai memori.

    Banyuwangi kemudian tidak sekadar muncul sebagai nama geografis, tetapi sebagai konstruksi kultural yang dibentuk oleh pengalaman, bahasa, lanskap, dan ingatan.

    Puisi dengan demikian menjadi semacam ruang antara: antara masa lalu dan masa kini, antara tempat yang ditinggalkan dan tempat yang sedang dihuni, serta antara pengalaman individual dan ingatan kolektif.

    Ketika Teks Menjadi Peristiwa Bunyi

    Bedah buku diawali dengan pembacaan puisi oleh Nukhbatul Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi, peraih Liga Puisi tingkat guru tahun 2023.

    Pembacaan kemudian dilanjutkan Muhammad Enggar, SAW Notodiharjo, dan Kaka Rivy dari SMAN 1 Glagah.

    Rina Kartika, Kepala SMAN 1 Muncar, turut membacakan puisi. Kehadirannya memiliki keterkaitan khusus dengan salah satu penulis, Echa, yang merupakan alumni SMAN 1 Muncar.

    Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa puisi tidak hanya merupakan teks tertulis. Ketika dibaca, puisi mengalami transformasi menjadi peristiwa bunyi. Ritme, tekanan suara, jeda, dan artikulasi memberikan dimensi baru terhadap teks.

    Dengan demikian, forum tersebut tidak semata-mata menjadi ruang kritik sastra dalam pengertian akademis, tetapi juga menjadi ruang apresiasi estetik. Teks memperoleh tubuh melalui suara, sementara suara membuka kemungkinan tafsir baru bagi pembaca.

    Tiga Penyair, Tiga Jalan Kreatif

    Jack Parmin, Siswanto, dan Anton Wahyudi membaca karya-karya dalam Selasar Jejarak melalui perspektif yang beragam. Mereka melihat kekuatan artistik ketiga penyair sekaligus ruang pengembangan yang masih terbuka.

    Siswanto memberikan perhatian terhadap perkembangan sastra Banyuwangi yang dinilainya cukup pesat.

    Pertumbuhan tersebut tidak hanya dapat diukur melalui jumlah penulis dan karya yang lahir, tetapi juga melalui keberadaan komunitas, forum diskusi, kegiatan apresiasi, serta keberanian penulis membangun identitas kepenyairannya.

    Dalam perspektif perkembangan kesusastraan daerah, fenomena tersebut penting. Sebab ekosistem sastra tidak dibangun hanya oleh karya, tetapi juga oleh jejaring yang mempertemukan penulis, pembaca, akademisi, komunitas, lembaga kebudayaan, dan institusi pendidikan.

    Ketiga penulis dalam Selasar Jejarak memperlihatkan karakter kreatif yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan karena menunjukkan bahwa sastra Banyuwangi tidak bergerak dalam satu suara yang seragam.

    Sastra tumbuh melalui keberagaman perspektif.

    Ia berkembang ketika pengalaman yang berbeda diberi kesempatan untuk menemukan bentuk bahasa masing-masing.

    Pandangan mengenai perkembangan kreatif ketiga penulis juga disampaikan Tengsoe Tjahjono. Sastrawan sekaligus akademisi tersebut melihat adanya perkembangan yang cukup pesat dalam kemampuan ketiganya mengolah pengalaman menjadi puisi.

    Pengalaman, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai peristiwa yang dialami. Ia mengalami proses estetisasi: dipilih, direnungkan, ditafsirkan, kemudian dihadirkan kembali dalam struktur bahasa puitik.

    Dari Banyuwangi ke Ruang Sastra yang Lebih Luas

    Pembicaraan mengenai produktivitas sastra Banyuwangi juga datang dari Sangat Mahendra, sastrawan Madura.

    Hadir pula Yulitin dari Balai Bahasa dan Elvin Hendrata dari Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi.

    Sementara itu, Fatah Yasin Nor dari Komite Bahasa dan Sastra DKB Banyuwangi memberikan perhatian terhadap sejumlah puisi dalam buku tersebut, khususnya hubungan antara pengalaman personal penyair, lingkungan, dan Banyuwangi sebagai ruang kultural.

    Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi dokumen kultural tanpa harus kehilangan sifat estetiknya.

    Puisi mampu merekam perubahan zaman, tetapi tidak bekerja seperti laporan jurnalistik. Ia menyimpan realitas melalui simbol, metafora, citraan, dan pengalaman subjektif.

    Karena itu, Selasar Jejarak dapat ditempatkan sebagai salah satu penanda kecil dalam peta pertumbuhan sastra Banyuwangi.

    Bukan karena buku tersebut telah mengatakan segala sesuatu tentang Banyuwangi, melainkan karena ia menunjukkan bahwa masih banyak hal yang dapat dikatakan melalui puisi.

    Selasar yang Belum Berujung

    Pada akhirnya, Selasar Jejarak dapat dibaca sebagai metafora tentang perjalanan kepenyairan.

    Selasar adalah ruang antara. Ia bukan kamar, tetapi juga bukan halaman terbuka. Ia menjadi tempat orang berjalan, berhenti sejenak, berjumpa, lalu melanjutkan perjalanan.

    Demikian pula sastra Banyuwangi.

    Ia bergerak dari pengalaman personal menuju pengalaman sosial; dari kampung halaman menuju ruang global; dari teks menuju suara; dari penyair menuju pembaca.

    Seorang penyair dapat berada ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, tetapi bahasa memiliki kemampuan untuk menghadirkan kembali sebuah tempat melalui ingatan.

    Di titik itu, Banyuwangi bukan lagi sekadar koordinat geografis.

    Ia menjadi lanskap batin.

    Dan Selasar Jejarak memperlihatkan bahwa perjalanan sastra Banyuwangi masih panjang. Ketiga penyair tersebut mungkin baru sedang melewati sebuah selasar, tetapi di sepanjang perjalanan itu, mereka meninggalkan jejak kata yang memungkinkan pembaca berhenti, menoleh, lalu bertanya tentang makna.

    Sebab puisi tidak pernah benar-benar selesai ketika ditulis.

    Ia baru menemukan kehidupan ketika dibaca, ditafsirkan, dan diperdebatkan.

    Dari sanalah sastra tumbuh: bukan dalam keseragaman jawaban, melainkan dalam keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan melalui bahasa. (Syaf)

  • Menteri Perdagangan Apresiasi Selai Osing Naga, Produk Ecosociopreneur Banyuwangi yang Berpeluang Tembus Pasar Global

    Menteri Perdagangan Apresiasi Selai Osing Naga, Produk Ecosociopreneur Banyuwangi yang Berpeluang Tembus Pasar Global

    Inovasi pangan berbasis potensi lokal Banyuwangi mendapat perhatian Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso.

    Saat mengunjungi tenant UMKM dalam kegiatan Talkshow dan Pameran Produk UMKM yang digelar Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Banyuwangi, Menteri Perdagangan mengapresiasi Selai Osing Naga, produk olahan buah naga yang dikembangkan dengan pendekatan ecosociopreneurship.

    Kegiatan berlangsung di Aula Pelinggihan Tawang Alun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8/2026).

    Menteri Perdagangan hadir didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, serta sejumlah jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

    Di hadapan Menteri Perdagangan, Zahrotul Janah, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, memperkenalkan Selai Osing Naga sekaligus menjelaskan konsep ecosociopreneurship yang menjadi dasar pengembangan produk tersebut.

    Selai Osing Naga menggunakan buah naga sekaligus kulit buah naga sebagai bahan utama.

    Inovasi tidak berhenti pada pemanfaatan bagian buah yang biasa dikonsumsi, tetapi juga mengolah kulit buah naga menjadi bagian penting dalam proses pembuatan selai.

    Salah satu keunikan produk tersebut adalah pemanfaatan kulit buah naga sebagai sumber pengental alami, sehingga dalam proses pengolahannya tidak membutuhkan bahan tambahan pengental seperti pada umumnya.

    Konsep tersebut menjadi bagian dari semangat ecosociopreneurship, yakni mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

    Potensi komoditas lokal diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara bagian buah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali.

    “Kalau Selai Begini Kesukaan Orang Luar Negeri”

    Penjelasan mengenai inovasi Selai Osing Naga mendapat respons positif dari Menteri Perdagangan Budi Santoso.

    Setelah mencicipi dan mendengarkan penjelasan mengenai produk tersebut, Menteri Perdagangan bahkan langsung mendorong agar Selai Osing Naga dipersiapkan untuk memasuki pasar ekspor.

    “Wah, kalau selai begini kesukaan orang luar negeri. Ini segera diekspor. Lengkapi perijinannya dan usahakan tahan satu tahun produknya. Kementerian punya berbagai event internasional untuk mencari buyer, nanti langsung hubungi Pak Dirjen dan Bu Dirjen,” ungkap Budi Santoso.

    Pesan tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi pengembangan Selai Osing Naga.

    Tidak hanya memberikan apresiasi terhadap inovasi produk, Menteri Perdagangan juga memberikan arahan konkret mengenai langkah yang perlu dipersiapkan agar produk dapat memenuhi kebutuhan pasar global, terutama terkait perizinan, daya tahan produk, dan akses buyer internasional.

    Bagi Zahrotul Janah, perhatian tersebut menjadi momentum penting untuk membawa konsep ecosociopreneurship dari tingkat lokal menuju pasar yang lebih luas.

    “Selai Osing Naga kami kembangkan bukan hanya untuk menghasilkan produk pangan baru, tetapi juga bagaimana potensi buah naga Banyuwangi bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus mengurangi potensi limbah dari kulit buahnya,” jelas Zahrotul.

    Kemendag Siap Buka Akses Buyer Internasional

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM Indonesia untuk membuka akses pasar internasional.

    “Kementerian memiliki Atase lebih dari 46 di berbagai negara yang bertugas untuk mencarikan buyer dan menangani business matching berbagai produk termasuk UMKM. Produk yang ingin diekspor apa dan bisa memilih mau ke negara mana, nantinya akan kami proses sampai menemukan buyer,” jelas Busan, sapaan akrab Budi Santoso.

    Selain akses buyer, Budi Santoso juga memperkenalkan “Pojok Product Placement Pilihan Busan”, yang dapat menjadi salah satu peluang bagi produk-produk UMKM untuk memperluas akses pasar.

    “Tiga bulan sekali produk APUNA dan bapak ibu sekalian bisa didaftarkan ke Pilihan Busan. Kalau lolos sudah pasti bisa masuk ke seluruh jaringan ritel modern,” ujarnya.

    Peluang tersebut membuka ruang bagi Selai Osing Naga dan berbagai produk UMKM Banyuwangi lainnya untuk tidak berhenti sebagai produk lokal, tetapi dipersiapkan agar memiliki daya saing dan memenuhi standar pasar yang lebih luas.

    Wakil Bupati: “Ini Masuk Ekonomi Hijau”

    Apresiasi terhadap Selai Osing Naga juga datang dari Mujiono, Wakil Bupati Banyuwangi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Saat mengunjungi tenant, Mujiono melihat langsung produk Selai Osing Naga dan memberikan dorongan agar inovasi berbasis potensi lokal tersebut terus dikembangkan.

    “Selai buah naga ya, wah masuk ini tentang ekonomi hijau. Terus semangat, ayo foto,” ungkap Mujiono.

    Menurutnya, peluang dan arahan yang disampaikan Menteri Perdagangan perlu ditindaklanjuti secara serius oleh para pelaku UMKM. Jejaring yang telah terbentuk perlu dioptimalkan agar peluang yang terbuka tidak berhenti pada kegiatan pameran dan talkshow.

    Mujiono juga mendorong agar pelaku UMKM Banyuwangi memanfaatkan berbagai akses yang telah disampaikan Kementerian Perdagangan sehingga cita-cita UMKM Banyuwangi go global dapat benar-benar diwujudkan.

    Dari Kulit Buah Naga, Tumbuh Cerita Ekonomi Hijau

    Selai Osing Naga menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sederhana dapat membuka cerita yang lebih besar.

    Buah naga yang menjadi salah satu komoditas unggulan Banyuwangi tidak hanya dijual sebagai buah segar, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

    Lebih jauh, pemanfaatan kulit buah naga memperlihatkan bahwa pendekatan ekonomi hijau dapat dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat: memanfaatkan apa yang ada, mengurangi yang terbuang, menciptakan nilai ekonomi, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk berdaya.

    Melalui pendekatan ecosociopreneurship, Selai Osing Naga membawa pesan bahwa produk lokal tidak harus memilih antara ekonomi atau lingkungan. Keduanya dapat tumbuh bersama.

    Dari Banyuwangi, dari buah naga, bahkan dari bagian yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa, lahir sebuah inovasi yang kini mendapatkan dorongan untuk melangkah lebih jauh. (Maydini )

  • APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    Peluang produk lokal Banyuwangi untuk menembus pasar global semakin terbuka.

    Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk “Membangun Akses Produk Lokal Menjadi Incaran Pasar Global” yang menghadirkan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso di Aula Pelinggihan Tawang Alun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8).

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Banyuwangi ini mempertemukan Menteri Perdagangan dengan pelaku usaha, komunitas pengusaha, UMKM, serta berbagai penggerak ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Turut mendampingi Menteri Perdagangan, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, serta sejumlah jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta.

    Talkshow berlangsung interaktif. Para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan paparan kebijakan, tetapi dapat menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan dan memasarkan produknya.

    Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari kelayakan produk untuk ekspor, langkah awal memasuki pasar internasional, perizinan, strategi menemukan buyer, hingga pengalaman pelaku usaha yang telah melakukan ekspor tetapi mengalami persoalan karena tertipu agregator.

    Bahkan, peluang produk hasil karya siswa SMK untuk menembus pasar ekspor juga menjadi salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada Menteri Perdagangan.

    Seluruh pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Budi Santoso.

    Penjelasan yang praktis dan membuka peluang tersebut membuat para pelaku usaha semakin antusias untuk mengembangkan produknya.

    Budi Santoso yang akrab disapa Busan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia untuk membuka akses pasar.

    “Kementerian memiliki Atase lebih dari 46 di berbagai negara yang bertugas untuk mencarikan buyer dan menangani business matching berbagai produk termasuk UMKM. Produk yang ingin diekspor apa dan bisa memilih mau ke negara mana, nantinya akan kami proses sampai menemukan buyer,” ungkap Busan.

    Menurutnya, pelaku usaha tidak perlu hanya berfokus pada bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga perlu memahami pasar yang dituju, meningkatkan kualitas, memenuhi persyaratan dan perizinan, serta membangun strategi pemasaran yang tepat.

    Dari Produk Lokal, Menuju Pasar Global

    Talkshow tersebut semakin menarik karena di lokasi kegiatan juga digelar pameran produk dari berbagai komunitas pengusaha Banyuwangi.

    Beragam produk yang ditampilkan menunjukkan bahwa potensi ekonomi lokal Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada komoditas pertanian, tetapi juga berkembang pada sektor pangan olahan, kopi, kerajinan, fesyen, kriya, hingga produk kreatif.

    Sebanyak 22 peserta pameran turut menampilkan produknya, di antaranya Cigaraya Indonesia dengan cerutu daun talas, Alpukat Sofyan, Al-Balad Beans, Sambal Tempong Kemasan, LPNU Banyuwangi, APUNA, Pancoran Craft, Pakarwangi, Kejaya Handicraft, Pawoenkoe (Sinema Indonesia), Pawoenkoe Mevraiw, Kriya Bambu Papring, Iswara, Asosiasi UMAMI, Kopitalisasi, Bakpia Pewe, Karya Tangi, kerajinan bambu, Studer Pucuk Wetan (IWAPI), PT Rayan Smart Kreatif, serta Batik Papring.

    Keberagaman produk tersebut menjadi gambaran bahwa Banyuwangi memiliki banyak produk lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

    Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan juga memperkenalkan program “Pojok Product Placement Pilihan Busan” sebagai salah satu peluang bagi produk pelaku usaha untuk masuk ke jaringan ritel modern.

    “Tiga bulan sekali produk APUNA dan bapak ibu sekalian bisa didaftarkan ke Pilihan Busan. Kalau lolos, sudah pasti bisa masuk ke seluruh jaringan ritel modern,” jelas Busan.

    Program tersebut disambut antusias oleh para pelaku usaha karena memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai jalur pengembangan pasar produk lokal, tidak hanya menuju konsumen domestik tetapi juga menuju jaringan perdagangan yang lebih luas.

    APUNA Jadi Ruang Kolaborasi Perempuan Muda dalam Ekonomi

    Sambutan Ketua PDNA Banyuwangi (Dok. Sastrawacana/Cici)

    Ketua PDNA Banyuwangi, Roudhotul Jannah, mengatakan bahwa talkshow tersebut tidak hanya menjadi ruang bertemunya pemerintah dengan pelaku usaha, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarpelaku UMKM di Banyuwangi.

    Menurut Nana, sapaan akrab Roudhotul Jannah, APUNA hadir sebagai wadah bagi perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah untuk berdaya dalam bidang ekonomi sekaligus membangun jejaring usaha yang lebih luas.

    “Talkshow ini sekaligus menjadi ajang sinergi dan kolaborasi UMKM untuk bersama-sama meluaskan jejaring usahanya. APUNA adalah wadah perempuan muda Nasyiah untuk berdaya dalam ekonomi,” ungkap Nana.

    Ia menambahkan, berbagai peluang yang disampaikan Menteri Perdagangan akan menjadi bahan tindak lanjut bagi APUNA Banyuwangi, termasuk dengan menghubungkannya melalui Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur.

    “Peluang-peluang ekspor yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan ini bisa difollow up ke Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur,” tambahnya.

    Dari Silaturahmi Menjadi Jejaring Usaha

    Semangat kolaborasi juga terasa dari para peserta. Salah satunya disampaikan oleh PC LPNU Banyuwangi melalui pesan di grup WhatsApp peserta kegiatan.

    “Kami atas nama PC LPNU Banyuwangi juga terima kasih sudah diundang, mudah-mudahan nanti APUNA bisa bersinergi dan kolaborasi dengan kami, matur nuwun.”

    Pesan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum sehari.

    Lebih dari itu, talkshow menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai komunitas dan membuka kemungkinan kerja sama baru.

    Bagi APUNA Banyuwangi, mempertemukan pelaku usaha dengan pemerintah sekaligus mempertemukan pelaku usaha satu dengan lainnya merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat.

    Produk lokal tidak cukup hanya dikenal di daerah asalnya. Ia perlu diberi jalan untuk tumbuh, menemukan pasar, membangun jejaring, dan memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat global.

    Melalui talkshow bersama Menteri Perdagangan RI ini, APUNA Banyuwangi membawa satu pesan penting: Banyuwangi tidak hanya memiliki produk lokal yang layak dibanggakan, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pasar global. (Zahrotul Janah)

  • Lomba Pildacil dan Nasyid Semarakkan Maulid Nabi di MI Darunnajah 2 Tukangkayu

    Lomba Pildacil dan Nasyid Semarakkan Maulid Nabi di MI Darunnajah 2 Tukangkayu

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MI Darunnajah 2 Tukangkayu, Banyuwangi, berlangsung semarak pada Kamis (27/8), bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1448 H.

    Kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus wadah kreativitas bagi para santriwati.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan senam sehat, kegiatan menanam dan bercocok tanam, serta pengarahan terkait sekolah Adiwiyata yang disampaikan Kepala Madrasah Majidatul Himmah, S.Ag.

    Ia juga memimpin Mahallul qiyam bersama peserta sebelum kegiatan dilanjutkan dengan salat dhuha.

    Setelah itu, para santriwati menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum mengikuti berbagai perlombaan yang telah disiapkan panitia.

    Terdapat dua jenis perlombaan yang digelar dengan pembagian kategori kelas atas dan kelas bawah, yakni Pildacil dan Nasyid lagu islami.

    Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari pelatih ekstrakurikuler serta wali murid yang memiliki anak dengan prestasi dan talenta di berbagai bidang.

    Sementara itu, pengajian keluarga besar Darunnajah yang mencakup MI 1 untuk putra, MI 2 untuk putri, serta MTs Darunnajah dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September.

    Kegiatan tersebut juga akan menjadi panggung bagi penampilan dari masing-masing lembaga, perseorangan, maupun kelas.

    “MC dari anak-anak mulai latihan serta prosesi awarding jawara,” tutur Mrs. Aida pada media ini saat pawai nuansa merah putih yang disemarakkan Drumband MTs dan bazar UMKM para wali murid, dilanjutkan dengan pengundian doorprize menarik dari berbagai sponsorship.

    Rangkaian kegiatan tersebut turut memperlihatkan keterlibatan para siswa dan wali murid, mulai dari pawai bernuansa merah putih, penampilan Drumband MTs, hingga bazar UMKM yang diikuti para wali murid.

    Acara kemudian ditutup dengan pengundian doorprize menarik dari berbagai pihak sponsor.

    “Alhamdulillah berkat kekompakan dan keikhlasan semua maka seluruh program berjalan lancar. Terima kasih segenap wali santri dan doa restu yayasan,” ucap Kamad yang sekaligus putri dari alm. KH Ma’shum Syafi’i ini sambil senyum dan siap siapkan talent menyongsong Porseni MI Jatim ini. (Bung Aguk)

  • Avilla dan Reyhan Raih Gelar Jawara Lomba Bercerita PARFI Banyuwangi

    Avilla dan Reyhan Raih Gelar Jawara Lomba Bercerita PARFI Banyuwangi

    Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Kabupaten Banyuwangi menggelar lomba bercerita bertema kepahlawanan nasional dan perjuangan daerah di Terminal Wisata Terpadu Sobo, Jumat (28/8/2026).

    Kegiatan tersebut mendapat dukungan Bidang Festival Seni Budaya Jawa Timur yang diketuai Laros Dr. Hj. Soekanti Swastika Wati, SH, MM.

    Peserta lomba berasal dari kalangan pelajar dan terbagi dalam dua kategori, yakni SD/MI serta SMP/MA/SMA/SMK.

    Pada kategori SMP/MA/SMA/SMK, juara diraih Reyhan Iftitah Surya dari SMA Muhammadiyah 2 Genteng.

    Ia membawakan kisah perjuangan pasukan Macan Putih dalam Agresi Militer II di wilayah Jalen, Genteng, dengan mengangkat sosok Letkol Baderun dan Kapten Samiran.

    Sementara itu, Avilla Putri Yuwono dari MI Islamiyah Rogojampi menjadi juara pada kategori SD/MI sekaligus memperoleh penghargaan naskah terbaik. Avilla mengangkat kisah Psedo Wilis yang bersumber dari buku Sejarah Seni Budaya Banyuwangi karya Yeti Chotimah.

    Cerita tersebut dibawakannya dengan judul Sayu Wiwit Srikandi Blambangan.

    Prestasi yang diraih keduanya bukan tanpa pengalaman.

    Reyhan dan Avilla sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam seni bertutur dan puisi hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Selain para juara utama, panitia juga memberikan apresiasi kepada peserta lainnya.

    Penghargaan harapan 3 diraih Dzakiyah dari MI Darunnajah 2 Banyuwangi yang membawakan sosok Bung Hatta.

    Sementara Kirana dari SMPN 1 Rogojampi mengangkat kisah Prabu Tawang Alun yang bersumber dari buku Lontar Babad Tawang Alun karya Wiwin Indiarti serta buku Sejarah Seni dan Budaya Banyuwangi karya Yeti Chotimah.

    Yeti Chotimah sendiri diketahui merupakan Ketua MGMP Bahasa Using SMP sekaligus Guru Pendamping Khusus Disabilitas.

    “Terima kasih pelatih yang telaten dan ibu ibu Dharma Wanita Persatuan Bappenda PPD UPT Banyuwsngi yang kompak hingga anak kami percaya diri serta meraih trophy pertama di ajang non akademik bidang seni. Semoga event berikutnya bisa masik 3 besar,” ungkap ibu Kirana, Eka Pujiastuti sembari memeluk anak semata wayangnya sembari menangis haru.

    Penasehat Panitia, Bahtiar Dahlan, SH, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan bercerita, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus meluruskan kembali sejarah perjuangan daerah.

    Menurutnya, materi yang dibawakan para peserta berpotensi dikembangkan menjadi bahan skenario film pendek.

    Para peserta juga berkesempatan mendapat pengalaman lebih jauh di bidang perfilman, termasuk menjadi talent, aktor maupun artis.

    “Kami Terima kasih ke kadisbudpar, bakesbangpol, camat, kolase, Komunitas Kebaya dan Senam serta Mitra sponsor yang partisipasinya dalam lomba bercerita serta nonton bareng Film edukasi Ada Hantu Di Menara Merdu dan Motivasi Disabilitas di SLB PGRI Tegaldlimo,” pungkas aktivis Pemuda Panca Marga ini. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Ancak dan Kembang Ndog Warnai Peringatan Maulid Nabi di Masjid Baiturrahiem Rogojampi

    Ancak dan Kembang Ndog Warnai Peringatan Maulid Nabi di Masjid Baiturrahiem Rogojampi

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Besar Baiturrahiem Rogojampi, Banyuwangi, kembali menghadirkan tradisi ancak berkat dan kembang ndog yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

    Tradisi tersebut menjadi bagian dari kemeriahan peringatan 12 Rabiul Awal 1448 H yang digelar Rabu, 25 Agustus 2026.

    Ketua Takmir Masjid Baiturrahiem Rogojampi, Dr. H. Lukman Hakim, S. Ag, M. HI., mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan baik yang dikembangkan para leluhur dan ulama Banyuwangi.

    Tradisi yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara itu, menurutnya, menjadi salah satu komitmen takmir untuk terus dilestarikan.

    “Yang jelas remaja masjid meng filter hiasan yang menyerupai barong, ogoh -ogoh maupun patung semacam berhala untuk menjaga Tauhid kita. Wabil khusus pasti ada sholawatan, berjanji asrokolan,” ungkap Lukman Hakim yang juga rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi ini.

    Selain menjaga tradisi, rangkaian Maulid Nabi juga diisi dengan sholawatan dan kegiatan yang mengajak jamaah untuk meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.

    Salah satu panitia, M. Fahris, S. Pd., menyampaikan bahwa panitia telah menyiapkan ratusan paket berkat untuk dibagikan kepada jamaah yang hadir.

    Anak-anak juga mendapatkan bagian dalam pembagian tersebut.

    “Kami juga menyiapkan 300 paket berkat. Jadi semua dapat termasuk anak+anak.Ada kembang ndoq sewu jadi semua bahagia senang memaknai kelahiran Rasulullah yang kita cintai dan rindukan,” tutur Pembina PMR dan UKS SMPN 3 Rogojampi tersebut.

    Peringatan Maulid Nabi tersebut juga menjadi kesempatan bagi sejumlah jamaah dari luar daerah untuk kembali merasakan suasana muludan yang pernah mereka alami pada masa kecil.

    Jamaah dari Bali dan Madura disebut turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Ahmad Cacuk Zuhri, salah seorang jamaah, mengungkapkan kedatangan mereka untuk mengenang suasana muludan tersebut terasa seperti mudik saat Lebaran.

    “Alhamdulillah dapat berkat nasi dan kue kesukaan istri sesuai amal dan perbuatan,” ucapnya sambil senyum.

    Sementara itu, pemerhati sejarah, seni dan budaya Yeti Chotimah, M. Art., menjelaskan sejarah tradisi kembang Ndog yang turut dipertahankan dalam peringatan Maulid Nabi tersebut.

    Menurutnya, tradisi kembang Ndog dipelopori KH Faqih, ulama asal Cemoro, Balak, Songgon yang telah menjadi pengurus PBNU sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

    Tradisi tersebut juga memiliki filosofi yang menggambarkan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

    Cangkang telur diibaratkan sebagai Islam, bagian putih telur sebagai iman, sedangkan kuning telur dimaknai sebagai ihsan.

    “Diharapkan telur Bebek yang diibaratkan beramal secara rahasia tanpa riya’ karena bebek setelah bertelur diam. Sedang ayam usai bertelur selalu koar berkokok bahwasanya habis memberi faedah manfaat ke makluk lainnya,” terang Ketua MGMP Bahasa Using SMP ini yang banyak menulis buku berbagai genre.

    Rangkaian kenduri selamatan kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin Imam Besar Masjid Baiturrahiem, KH. Hayatudin.

    Doa tersebut berisi harapan agar jamaah menjadi hamba yang saleh dan kelak diakui sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW.

    Doa juga dipanjatkan agar berbagai persoalan sosial dan ekonomi mendapatkan solusi terbaik, diberikan kesehatan dan umur yang penuh keberkahan, serta dapat kembali ke pangkuan Ilahi Robbi dalam keadaan husnul khatimah. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Jagongan Bareng Petani Banyuwangi, Menko Pangan Siap Kawal Pembenahan Infrastruktur Pertanian

    Jagongan Bareng Petani Banyuwangi, Menko Pangan Siap Kawal Pembenahan Infrastruktur Pertanian

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan kembali menyambangi Banyuwangi. Kali ini, Zulhas, sapaan akrabnya, berdialog langsung dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan para petani se-Banyuwangi dalam kegiatan Jagongan Bareng di Dam Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Kamis (20/8/2026).

    Pertemuan bersama ratusan petani tersebut menjadi ruang bagi petani untuk menyampaikan berbagai persoalan di lapangan. Sejumlah aspirasi yang disampaikan juga mendapat perhatian langsung dari Menko Pangan dan akan dikawal hingga ke pemerintah pusat.

    Salah satu aspirasi disampaikan Dianto, petani asal Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Ia meminta adanya pembenahan saluran irigasi sebagai antisipasi menghadapi musim kemarau panjang.

    “Kami mohon kepada pak Menteri masalah ini bisa diselesaikan secepatnya,” ujar Dianto kepada Menko Pangan yang turut didampingi Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono serta Tenaga Ahli Menko Bidang Pangan Guntur Priambodo.

    Ketua Gabungan HIPPA Pesanggaran, Murtadho, juga menyampaikan kebutuhan normalisasi saluran irigasi sekunder. Menurutnya, sedimentasi lumpur yang menumpuk menghambat distribusi air ke lahan pertanian.

    Petani juga mengusulkan agar pembangunan maupun perbaikan saluran irigasi ke depan dapat melibatkan masyarakat melalui mekanisme swakelola atau padat karya.

    “Permintaan semua HIPPA itu kalau misalnya ada bangunan irigasu dari pemerintah harus diswakelolakakan pak,” ucap Tain, HIPPA asal Tegalsari ini.

    Sementara itu, Hariyadi, petani asal Muncar, meminta pemerintah segera merealisasikan perbaikan Jaringan Irigasi Tersier Dam Mendung.

    Menanggapi berbagai masukan tersebut, Menko Pangan meminta Pemkab Banyuwangi segera mengirimkan surat resmi berisi usulan perbaikan pertanian kepada Kementerian Pekerjaan Umum. Surat tersebut juga diminta ditembuskan kepada Kemenko Pangan agar dapat dikawal dan ditindaklanjuti.

    “Saya yang mengawal langsung, Pak Wabup dan Ibu Bupati tinggal bikin surat, tembuskan ke saya,” tegas Zulhas.

    Zulhas menegaskan, pemerintah pusat berkomitmen memastikan persoalan yang dihadapi petani dapat segera ditangani. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar petani tidak mengalami kesulitan, termasuk ketika menghadapi persoalan irigasi.

    Menurut Zulhas, pemerintah juga berkomitmen menghentikan impor beras sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

    Penguatan ketahanan pangan tersebut nantinya juga didukung melalui optimalisasi Koperasi Desa Merah Putih yang direncanakan mulai berperan pada akhir September mendatang.

    Koperasi tersebut akan memiliki sejumlah fungsi, termasuk menjaga harga gabah minimal Rp6.500, menyalurkan bantuan pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan), serta menyediakan fasilitas penyimpanan seperti cold storage.

    “Kita bisa makan kalau ada petaninya sehat, petaninya makmur. Yang maju dan dapat nikmat harus petani Indonesia,” kata Zulhas. (*)

  • Lewat BWX Sky Fest 2.0, Bandara Banyuwangi Perkuat Peran sebagai Etalase Budaya dan Ekonomi Daerah

    Lewat BWX Sky Fest 2.0, Bandara Banyuwangi Perkuat Peran sebagai Etalase Budaya dan Ekonomi Daerah

    Bandara Internasional Banyuwangi kembali menunjukkan perannya tidak hanya sebagai sarana transportasi udara, tetapi juga sebagai pusat promosi budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan produk unggulan daerah.

    Melalui penyelenggaraan BWX Sky Fest Vol. 2 yang berlangsung pada 13–14 Juni 2026 di area Terminal Domestik Bandara Internasional Banyuwangi, masyarakat dan wisatawan diajak menikmati pengalaman yang memadukan dunia penerbangan, kuliner khas Banyuwangi, seni budaya, serta produk UMKM lokal.

    Sejak pagi, suasana bandara tampak lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Deretan stan kopi dan produk UMKM berjajar di area festival, sementara aroma kopi yang baru diseduh menyambut pengunjung yang memasuki terminal.

    Alunan musik akustik berpadu dengan aktivitas penumpang yang datang dan berangkat, menciptakan suasana unik yang jarang ditemukan di lingkungan bandara.

    Festival ini menjadi bukti transformasi Bandara Internasional Banyuwangi sebagai ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai etalase budaya dan ekonomi daerah yang memperkenalkan kekayaan Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bandara Internasional Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu bandara dengan desain arsitektur ramah lingkungan dan berkonsep hijau yang memadukan unsur budaya lokal.

    Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, identitas tersebut semakin diperkuat dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang menampilkan karakter khas Banyuwangi.

    Dukung Pelestarian Budaya Melalui Program CSR

    Dalam rangkaian kegiatan festival, PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Banyuwangi juga menyalurkan bantuan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) kepada Sanggar Gandrung Osing Kemiren.

    Bantuan tersebut digunakan untuk pembelian alat musik tradisional, perlengkapan bagi para pemusik, serta dukungan penyelenggaraan pementasan seni budaya.

    Program ini merupakan bagian dari CSR Community Upskilling for Aviation yang bertujuan memberdayakan komunitas lokal agar semakin mandiri dan berdaya saing.

    General Manager Bandara Banyuwangi, Mohamad Holik Muardi, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

    “Bandara tidak hanya berperan sebagai pintu gerbang transportasi udara, tetapi juga sebagai etalase budaya dan potensi daerah. Melalui program CSR ini, kami ingin memberikan dukungan nyata kepada para pelaku seni agar dapat terus berkarya, melestarikan warisan budaya, serta memperkenalkan identitas budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang lebih luas. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi Sanggar Gandrung Osing Kemiren dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perkembangan zaman,” ujar Holik.

    Ketua Sanggar Gandrung Osing Kemiren, Mohamad Edi Saputra, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Banyuwangi.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Dukungan ini sangat berarti bagi kami untuk terus menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Osing kepada masyarakat luas. Bantuan alat musik dan perlengkapan pementasan akan sangat mendukung aktivitas sanggar dalam melestarikan seni tradisi sekaligus membina generasi muda agar tetap mencintai budaya daerahnya,” ungkap Edi.

    Angkat Potensi Kopi Banyuwangi

    Mengusung tema “Majestic Coffee of Banyuwangi”, BWX Sky Fest 2.0 juga menjadi wadah promosi kopi lokal sekaligus pengembangan ekonomi kreatif daerah.

    Pemilihan kopi sebagai tema utama bukan tanpa alasan. Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas di Indonesia.

    Kawasan Ijen, Kalibaru, Glenmore, hingga Songgon telah lama menghasilkan kopi yang diminati pasar nasional maupun internasional.

    Melalui festival ini, para petani kopi, pelaku usaha, roaster, dan barista lokal mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat dan wisatawan.

    Berbagai jenis kopi khas Banyuwangi disajikan melalui beragam metode penyeduhan, mulai dari manual brew, pour over, french press hingga espresso-based coffee.

    Selain menikmati kopi, pengunjung juga mendapatkan edukasi mengenai proses pengolahan kopi dari kebun hingga menjadi minuman siap saji.

    Para barista berbagi pengetahuan tentang karakteristik kopi Banyuwangi, teknik penyeduhan, hingga cara mengenali kualitas biji kopi terbaik.

    Menurut Emir Yusuf, salah satu owner Gesha Coffee Roastery, kopi telah menjadi salah satu ikon ekspor Banyuwangi.

    Menurutnya, kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang berbeda dibanding kopi dari daerah lain. Selain itu, kopi juga mampu menyatukan para penikmatnya dalam ruang silaturahmi yang tidak dibatasi wilayah.

    Emir berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar kopi Banyuwangi semakin dikenal hingga mancanegara.

    Festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif, seperti talkshow mengenai industri kopi dan peluang usaha kreatif, kompetisi Battle Coffee kategori Latte Art dan Manual Brew, serta pameran dan bazar UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan Banyuwangi.

    “BWX Sky Fest 2.0 merupakan bentuk dukungan kami terhadap pengembangan ekosistem ekonomi kreatif daerah. Melalui tema Majestic Coffee of Banyuwangi, kami ingin mengangkat potensi kopi lokal sebagai kebanggaan daerah sekaligus mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah kolaborasi yang produktif. Kami berharap kegiatan ini dapat memperluas promosi kopi Banyuwangi dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tambah Holik.

    UMKM dan Seni Budaya Jadi Daya Tarik

    Selain kopi, puluhan pelaku UMKM turut meramaikan festival dengan menghadirkan berbagai produk unggulan daerah, mulai dari kerajinan tangan, batik khas Banyuwangi, makanan tradisional, hingga produk kreatif hasil karya generasi muda.

    Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya setiap stan yang dikunjungi. Banyak wisatawan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan.

    Salah satu pelaku UMKM, Azzahra dari DapurQu, mengaku bersyukur atas penyelenggaraan kegiatan tersebut karena produk kuliner tradisional yang dibawanya habis terjual bahkan sebelum acara berakhir.

    Sebagai bagian dari pembukaan festival, Sanggar Gandrung Osing Kemiren menampilkan Tari Gandrung dan berbagai tari kreasi khas Banyuwangi yang memukau para pengunjung.

    Pertunjukan tersebut menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi semangat utama BWX Sky Fest 2.0.

    Gerakan tarian yang dinamis, kostum berwarna-warni, serta iringan musik tradisional berhasil menciptakan suasana meriah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hadir.

    Perkuat Posisi Bandara sebagai Gerbang Pariwisata

    Keunikan BWX Sky Fest Vol. 2 terletak pada lokasinya yang berada di lingkungan bandara. Konsep ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang dapat menikmati kopi, menyaksikan pertunjukan budaya, berbelanja produk UMKM, sekaligus melihat aktivitas penerbangan dalam satu kawasan.

    Banyak pengunjung memanfaatkan area festival sebagai lokasi berfoto dengan latar pesawat yang sedang parkir maupun beraktivitas di apron bandara.

    Penyelenggaraan festival ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Bandara Internasional Banyuwangi dalam memperkuat posisinya sebagai pintu gerbang utama pariwisata Banyuwangi.

    Sebagai daerah yang memiliki beragam destinasi unggulan seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Alas Purwo, Teluk Hijau, De Djawatan, dan berbagai destinasi lainnya, Banyuwangi membutuhkan sarana transportasi yang mampu memberikan kesan positif sejak wisatawan pertama kali tiba.

    Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, Bandara Internasional Banyuwangi tidak hanya menghadirkan layanan transportasi udara, tetapi juga memperkenalkan wajah Banyuwangi yang kreatif, ramah, dan kaya budaya.

    Lebih dari sekadar festival kopi, BWX Sky Fest Vol. 2 menjadi simbol kolaborasi antara sektor transportasi, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

    Setiap cangkir kopi yang disajikan, setiap tarian yang ditampilkan, serta setiap produk UMKM yang dipamerkan membawa pesan yang sama: Banyuwangi adalah daerah yang kaya potensi dan siap menyambut dunia.

    Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang terus dikembangkan, Bandara Internasional Banyuwangi diharapkan dapat menjadi contoh bagi bandara-bandara lain di Indonesia dalam menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi masyarakat dan wisatawan.