Header Ads Widget

5 Krisis Terparah yang Membuat Uang Tak Ada Artinya


Jauh sebelum ada uang, sistem transaksi dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah barter, yaitu saling tukar barang. Namun, ketika uang sudah mulai beredar, maka barter mulai ditinggalkan karena semua sepakat jika uang adalah alat pembayaran yang sah.

Maka dari itu, semua orang bekerja keras untuk mencari uang demi memperbaiki kondisi ekonomi. Bahkan, demi memperbanyak jumlah uang, tak jarang ada yang melakukannya dengan cara-cara yang kurang terpuji, misal mencuri, korupsi, dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan uang sangatlah berarti.

Krisi Ekonomi Terparah

Namun, meski uang sangat berarti, nilainya tetap tak ada arti jika krisis ekonomi sedang melanda sebuah negeri. Ya, ketika sedang krisis, maka nilai uang akan jatuh dan tak ada harganya lagi. Dalam sejarah dunia, ada beberapa peristiwa yang membuat uang tak berarti, diantaranya:

1. Krisis Jerman Akibat Perang Dunia I dan II


photo: alphahistory.com

Jerman merupakan salah satu negara yang paling merasakan dampak dari PD I dan PD II. Setelah Perang Dunia pertama, Jerman berjuang membangun kembali negaranya dengan mencetak uang sebanyak-banyaknya sehingga membuatnya hiperinflasi. Akibatnya, semua harga barang melonjak tinggi.

Puncaknya, pada tahun 1923 harga barang di Jerman bisa sekitar satu triliun kali lebih tinggi dari harga normalnya. Hanya untuk sepotong roti, orang-orang harus membayar dengan uang sekarung pada saat itu. Saking tidak ada nilainya, uang juga digunakan untuk bahan bakar membuat api tungku. Sedangkan anak-anak, menjadikan uang sebagai mainan, salah satunya adalah layangan.

Setelah Perang Dunia II pecah, Jerman kembali mengalami nasib yang sama. Sekutu memberikan sanksi ekonomi yang membuat negara ini hancur secara finansial. Alhasil Reichsmark melemah hingga tidak ada harganya. Kemudian diganti Deutschmark. Selang beberapa waktu, Jerman mampu bangkit setelah beradaptasi dengan Deutschmark.

2. Krisis Revolusi Prancis


photo: britannica.com

Pada awal Revolusi Prancis pada tahun 1789-1799, Prancis mengalami krisis akibat beban hutang yang tinggi. Hingga pada akhirnya segala cara dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk merebut tanah gereja dan melelangnya, sebuah ide dari Seorang uskup Prancis bernama Charles Maurice de Talleyrand.

Semenjak itu, Prancis menetapkan jika semua gereja adalah aset negara dan mulai mengeluarkan uang kertas bernama Assignat. Namun, sayangnya cara ini justru menyebabkan hiperinflasi. Pada tahun 1796, nilai nominal Assignat melonjak 20 kali lipat dari perkiraan properti gereja yang dinasionalisasi.

Kondisi ini semakin runyam, apalagi ketika beberapa negara lain mencetak Assignat palsu dan menyebarkannya ke Prancis. Hingga akhirnya Assignat diganti menjadi Mandat, tapi juga tak bisa menyelesaikan masalah.

3. Krisis Abad ke-3: Dinar Romawi]

Akibat perang saudara yang semakin menjadi-jadi, membuat kekasiaran Romawi kocar-kacir selama abad ke tiga. Apalagi ditambah dengan wabah sehingga menyebabkan kemiskinan serta kelaparan yang begitu parah. Akibatnya, keuangan kekaisaran Romawi menciut.

Untuk mengatasinya, dilakukan penurunan nilai mata uang Dinar. Dengan cara ini, kekaisaran Romawi memang mendapat keuntungan finansial, namun juga dihantui risiko yang tinggi. Benar, tak berselang lama akhirnya terjadi hiperinflasi yang menyebabkan nilai dinar terus menurun.

Kemudian Gallienus mengambil alih kekuasaan di tahun 253 M, Dinar sudah menjadi Antoninianus, koin tembaga dicat perak (5 persen). Saat itu, masyarakat Romawi mengabaikan Dinar karena garam lebih berharga dari Dinar sehingga dijadikan metode barter.

4. Krisis Perang Revolusi AS: Kontinental

Selama pecahnya Perang Revolusi, krisis Amerika pun menghantui. Kala itu, Kongres Kontinental membiayai pemberontakan Amerika bukan dengan pajak rakyat, tapi dengan tagihan kredit, kontinental, dari 1/6 dolar hingga 80 dolar. Masing-masing negara bagian ikut mengedarkan kontinental masing-masing.

Hal itu menyebabkan AS kebanjiran uang kertas kontinental hingga mengalami inflasi dan nilainya tak berarti lagi. Kemudian, negara-negara bagian merespon dengan mencetak lebih banyak kontinental dan mewajibkan perusahaan-perusahaan kala itu untuk menggunakan kontinental sebagai metode pertukaran.

5. Krisis Venezuela

Para ekonom dunia mengatakan jika jatuhnya perekonomian Venezuela adalah keruntuhan ekonomi tunggal terbesar di luar perang dalam 45 tahun terakhir. Saking parahnya, bahkan disebutkan jika krisis Venezuela melebihi krisis di Uni Soviet, Kuba, dan Zimbabwe.

Pada tahun 2013, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, mengumumkan langkah baru untuk mengatasi hiperinflasi di negerinya, yaitu dengan denominasi. Hingga akhirnya pada tahun 2018, ia mengumumkan mata uang baru, Bolivar.

Tapi langkah ini menai kontroversi. Banyak pakar ekonomi mengkritik upaya pemerintah karena justru akan menyebabkan hiperinflasi. Ternyata benar, dengan denominasi Bolivar, mata uang Venezuela malah mengalami devaluasi hingga 96 persen! Akibatnya, banyak kelaparan, kemiskinan, dan kematian.