Header Ads Widget

Jejak Dedari

Judul : Jejak Dedari

Penulis : Erwin Arnada

Penerbit : Gagas Media

Cetakan I : 15 November 2016

Tebal : 324hal

ISBN : 979-780-860-0

 

Buku Jejak Dedari merupakan prosa yang dinarasikan dari skenario film. Jadi, film dibuat dulu, baru bukunya ditulis. Film rencananya tayang Februari 2017 ini. Buku mengangkat Bali dari sisi “gelap.” Selama ini, Bali identik dengan keindahan pariwisata alam, pantai, laut, bukit, sawah, dan kebudayaan yang terkenal di dunia.

Erwin Arnada sebagai seorang penulis dari Bali berusaha mengangkat kebudayaan masyarakat yang mungkin belum banyak diketahui. Dia terinspirasi dari Desa Kolok yang sebagian besar masyarakatnya bisu tuli turun-temurun. Penduduk bisu dan tuli dinamakan “masyarakat kolok”. Mereka hidup dengan mitos-mitos sebagai bagian dari karma leluhur.

“Masa lalu yang kelam, perbuatan-perbuatan salah pada masa silam sepertinya menuntut bayar di hari kemudian (hal 31). Ada seorang gadis bisu dan tuli bernama Rare yang tinggal bersama ibu (menak) dan bibi (Uwa Ronji). Rare sekolah di SD umum yang juga menampung anak-anak bisu tuli.

Suatu hari, Rare dan teman-teman kolok-nya (bisu-tuli) dituduh meracuni minuman anak-anak normal. Rare dituduh karena hanya dia sendiri yang tidak sakit. Masyarakat menganggap kolok sebagai orang yang dikarma, dikutuk leluhur, terutama Rare yang lahir bertepatan dengan wuku wayang. Menurut tradisi Hindu Bali, anak yang lahir pada wuku wayang harus diruwat nyapu leger agar tidak mendapat kesialan sepanjang hidup.

Ibunya belum melakukan upacara nyapu leger karena tak ada biaya. Rare adalah seorang gadis cantik , pintar, dan baik hati. Meskipun bisu dan tuli, dia dapat mengikuti pembelajaran seperti anak normal. Tetapi, penderitaan datang silih berganti. Beberapa tahun sebelumnya, ayah Rare dihukum dengan dikeluarkan dari kampung karena akan melecehkan Rare. Kini, Rare dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bersalah.

Menak prihatin atas penderitaan putrinya. Ia bertekad segera meruwat nyapu leger. Seorang ibu akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan anak. Pada saat bersamaan, musibah juga melanda desa tersebut. Kekeringan dan banyak hewan mati bersamaan. Mereka percaya, ini ulah Batara Kala yang sedang menjatuhkan bala sehingga harus segera diadakan upacara mementaskan tarian Sanghyang Dedari.

Tarian ini sakral, hanya boleh dilaksanakan jika desa membutuhkan pengampunan dan pertolongan Ida Batara. Rare berharap dengan menjadi penari, Sanghyang Dedari akan menghapus tuduhan “anak kutukan.” Penari Sanghyang Dedari dipercaya sebagai titisan dewa yang menjelma untuk menyembuhkan duka dan petaka yang memburu hingga anak cucu.

Meski ada kendala fisik, Rare tidak menyerah. Dengan dilatih bibinya, Uwe Ronji, yang pernah menjadi penari tarian Sanghyang Dedari, Rare berlatih giat dan tekun hingga berhasil menarikan dengan indah. Gadis penari Sanghyang Dedari seumur hidup tidak menikah, dan tetap menjaga kesuciannya sehingga dia diberi kelebihan dapat melihat hal-hal gaib.

Sebagian besar masyarakat hanya mengetahui tarian Bali, seperti Kecak, Legong , Barong, atau Pendet. Tarian Sanghyang Dedari memang tidak banyak dikenal karena jarang dimainkan. Hal ini terkait dengan kepercayaan masyarakat Bali.

Buku ini bukan hanya semata-mata memperkenalkan tarian Sanghyang Dedari. Ada banyak pesan moral, di antaranya seseorang yang memiliki keterbatasan, apabila gigih berusaha dan berdoa, akan dapat meraih hasil gemilang.

Sekolah di Bali menampung anak-anak berketerbatasan dengan bercampur anak normal. Hal ini belum banyak dilakukan sekolah-sekolah lain. Kisah kegigihan seorang ibu yang berjuang demi kebahagiaan anaknya. Ini bagian paling menyentuh agar anaknya hidup lebih bahagia dan terhormat.