Header Ads Widget

Dear Nathan

Judul : Dear Nathan

Penulis : Erisca Febriani

Penerbit : Best Media

Cetakan : 2016

Tebal : 528 halaman

ISBN` : 978-602-6940-14-8

Novel Dear Nathan mencoba memahamkan tentang cinta remaja dalam diri Nathan, seorang pelajar SMA yang jatuh hati pada murid baru, gadis mungil dengan rambut sebahu, bernama Salma. Bermula dari pertemuan di gerbang sekolah, Salma sangat ketakutan karena terlambat. Nathan menawarkan bantuan menyelinap melewati gerbang samping sekolah.

Melihat penampilan yang sedikit urakan, mulanya Salma menolak. Tapi akhirnya dia luluh mengikuti Nathan dari belakang. Salma berhasil masuk, sementara lelaki berambut melebihi kerah leher itu malah bolos!

Pertemuan kedua saat ulah Jaya melempar sepatu Salma dan mengenai kepala Nathan. Salma harus mengambilnya, walau dengan takut-takut. Nathan malah tersenyum melihatnya ketakutan. “Berhubung kamu pucat, saya jadi enggak enak. Lain kali, kalau ketemu sama saya biasa saja. Saya jinak, kok, nggak bakalan berani gigit,” kata Nathan (halaman 34).

Keduanya bertemu lagi saat Nathan dikeroyok belasan kakak kelas. Salma pingsan sehingga dibawa ke UKS. Nathan menyusul ke UKS, bukan untuk mengobati luka, tapi memberi secangkir teh hangat untuk Salma.

Pertemuan selanjutnya diisi dengan kejahilan, keluguan, dan banyak kejutan. Nathan yang bisa tidak acuh dengan perempuan, memberi perhatian lebih pada Salma, meski tidak cantik. Malahan Serin atau Dinda lebih seksi yang mengejar-ngejar Nathan. Salma terngaga saat Nathan berkata, “Meskipun tampangnya berandalan, saya amat menghargai perempuan. Perempuan kayak kaca. Kalau retak bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya... Entar malam saya sms, ya” (halaman 96).

Di depan Salma, dia selalu terlihat tenang, tulus dan penuh kesantunan. Terkadang Salma berpikir bahwa Nathan punya kepribadian ganda. Pada suatu kesempatan sepulang dari toko buku, Nathan mengungkapkan perasaannya, “Saya cinta sama kamu. Enggak usah kamu jawab sekarang. Belum waktunya. Saya akan mengatakan itu lagi nanti.... setelah kamu benar-benar cinta sama saya” (halaman 151). Salma merasa tegang dan tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menjawab, “Ya sudah.” Jawaban ini membuat Nathan ragu, apakah Salma benar-benar mencintainya.

Di sela kedekatannya dengan Salma, datanglah seorang teman masa kecil Nathan, Seli. Darinya Salma bisa tahu bahwa mereka dulu sempat berpacaran (cinta monyet) dan Seli masih mencintai Nathan. Satu lagi, ternyata Nathan memiliki kembaran yang sudah meninggal. Kematian kembarannya membuat Nathan didera bersalah hingga kini. Berkali-kali Seli mencoba mendekati Nathan. Tapi, hanya Salma yang ada di hati lelaki berambut gondrong itu.