Manakah Budaya Pendidikan Zaman Kolonial yang Sudah Tidak Lagi di Praktikkan di Kelas?

budaya pendidikan kolonial

Pada zaman kolonial, ada beberapa budaya pendidikan yang saat ini dianggap kurang pantas jika diterapkan pada masa sekarang.

Sebab, budaya dan sistem pendidikan terus berkembang hingga banyak perubahan-perubahan terjadi.

Baca juga: Mengintip Sistem Pendidikan Zaman Kolonial Belanda yang Mengiris Hati

Lantas, manakah budaya pendidikan zaman kolonial yang sudah tidak lagi di praktikkan di kelas? Berikut diantaranya:

A. Meminta murid berdiri di depan kelas ketika tidak mengerjakan tugas. Budaya ini bisa juga dikatakan sebagai hukuman.

B. Mengadakan pemeringkatan murid yang berdasarkan nilai dari tes pengetahuan pada setiap mata pelajaran.

C. Saat proses belajar, semua murid duduk rapi menghadap ke depan dan kelas kondisi kelas harus hening.

D. Cara membuat tugas dilakukan seragam, misalnya semua murid membuat tulisan, dsb.membuat video, dan sebagainya.

E. Memukul murid karena lalai atau tidak mengerjakan tugas yang diberikan.

Baca juga: Ki Hajar Dewantara Mendefinisikan Pendidikan Sebagai Tuntunan Artinya

Budaya pendidikan pada zaman kolonial di Indonesia dipengaruhi oleh kebijakan dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada masa itu, pendidikan lebih ditujukan untuk memenuhi kepentingan pemerintah kolonial dan menanamkan nilai-nilai serta norma-norma yang sesuai dengan kepentingan penjajah.

Salah satu ciri budaya pendidikan pada zaman kolonial adalah pemisahan pendidikan antara kalangan pribumi dan kalangan Eropa.

Pendidikan untuk kalangan Eropa lebih diutamakan dan mendapatkan fasilitas serta kurikulum yang lebih baik.

Sementara pendidikan untuk kalangan pribumi lebih terbatas dan diberikan dengan tujuan yang lebih terbatas pula, seperti untuk melatih tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pemerintah kolonial.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Asas Trikon yang Digagas Ki Hajar Dewantara

Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pendidikan juga menjadi salah satu ciri budaya pendidikan pada masa kolonial.

Pendidikan untuk kalangan Eropa menggunakan bahasa Belanda sebagai medium pengajaran, sementara pendidikan untuk kalangan pribumi menggunakan bahasa daerah atau bahasa Melayu.

Penggunaan bahasa Belanda dalam pendidikan Eropa bertujuan untuk memperkuat dominasi kolonial serta memisahkan antara kalangan pribumi dan kalangan Eropa.