Header Ads Widget

Puisi Hidangan Yang Tak Kunjung Usai - MF. Haiqal

Hidangan yang Tak Kunjung Usai

Oleh: MF. Haiqal


Malam berlalu, lelaki itu masih kalang kabut meramu sajak untuk ibu
Berhari-hari ditunggunya. Namun Jibril tak kunjung datang memberi wahyu
Dalam kebingungan, sahabatnya Waktu juga tak membantu
malah menatap nanar dirinya yang makin diburu waktu

“Untuk pacarmu, ribuan kalimat mampu kaupikat
Sedang untuk ibumu, sehuruf pun tak mampu kaurayu!”

Beberapa kalimat indah telah selesai dirangkai
tersusun dari serakan huruf yang terpungut di tiap persimpangan
Kendati segar, segalanya terasa hambar; kurang gurih dan sedap
tak seperti dendeng ibu yang dimasak penuh rempah renjana

“Mengapa cinta palsu mampu menggerakkan pena meramu aksara
sedang cinta sejati tak mampu menggerakkan hati mengukir abadi?”

Lelaki itu kesal, ocehan Waktu terbukti benar
Dijejalkan tiap huruf dalam wajan. Diaduk-aduk hingga meluap
Disulutnya api amarah sampai satu-satu meleleh, melebur
bersetubuh menjadi tumisan yang siap dihindangkan

“Sudahi saja usaha kerasmu
Saat semuanya usai, usianya sudah habis terurai!”

Lelaki itu kembali kesal, sekali lagi Waktu terbukti benar
Saat kalimat telah rampung ditumis dengan kalimat segar yang tak amis
tiada lagi pujian untuk sajak hari itu
Semuanya tertimbun gundukan tanah merah bertabur rempah

“Sekarang pulanglah, istirahatkan duniamu
Santaplah bekal terakhir yang ia buat untuk dirimu!”

Di dapur sudah tersaji sepiring nasi dengan sepotong lauk
masakan gurih yang dibumbui rempah renjana
Meski berkecamuk air mata, lelaki itu makan dengan lahapnya
Potongan dendeng hangat dari hati ibunya

22 Desember 2020