Header Ads Widget

Seindah Sakura di Bumi Nusantara

Judul buku : Seindah Sakura di Bumi Nusantara

Penulis : Suyoto Rais

Penerbit : Penebar Plus+ (Penebar Swadaya Grup)

Tahun terbit : 2015

Dimensi : 24.6 x 17.5 cm

Tebal buku : 215 halaman

Suyoto Rais, seorang profesional global adalah anak sulung dari keluarga kekurangan di Desa Jojogan, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Tidak hanya soal materi, kondisi psikis keluarganya juga tidak baik. Sejak muda, Suyoto harus melihat kenyataan perceraian orang tuanya. Sehingga dia menjadi korban kurang kasih sayang.

Suyoto diasuh oleh kakek-neneknya. Dengan profesi sebagai petani, kakek dan neneknya rela melakukan segala cara agar Suyoto bisa melanjutkan pendidikan.

Namun, karena kondisi ekonomi yang amat memprihatinkan, akhirnya Suyoto tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP. Sehingga Suyoto harus bekerja sebagai pembantu.

Dengan upahnya, dia bisa melanjutkan sekolah. Namun, perjuangan masih belum berakhir. Suyoto melanjutkan pendidikan SMA dengan menetap di pondok pesantren tua asuhan Almarhum K.H. Mawardi secara gratis.

Kyai sepuh yang cukup terkenal di Tuban ini sangat mulia. Beliau mau menerima kehadiran Suyoto meski tujuan utama Suyoto tinggal di pondok pesantren bukan untuk belajar agama.

Selama di pondok, Suyoto tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Dia mendapat makan secara gratis karena ada donatur. Untuk urusan biaya pondok, kakeknya sering menggadaikan sawah.

Hal itu membuat Suyoto tergerak untuk membantu kakeknya dengan nyambi berjualan es lilin sepulang sekolah. Suyoto juga pernah mengamen di sekitar Kabupaten Tuban selama libur panjang sekolah untuk menambah uang SPP.

Walau begitu, Sutoyo adalah seorang anak berprestasi. Bahkan, kakeknya selalu bangga dengan nilai rapor Sutoyo. Wajah kakek selalu berseri-seri karena konon beliau adalah orang yang dipanggil pertama kali ketika pembagian rapot.

Suyoto selalu menjadi ranking satu di sekolahnya. Tanpa sadar, pencapaian nilai Suyoto di sekolah menjadi penyemangat hidup kakeknya sehari-hari.

Dengan prestasinya yang melangit, Suyoto akhirnya diterima di ITS Surabaya dengan predikat lulusan terbaik di SMA-nya. Namun, kembali lagi dengan urusan biaya, dia mengalami kesulitan.

Beruntung bantuan dan sumbangan terus datang, termasuk dari Pak Lurah dan Pak Camat setempat karena keberhasilan Suyoto sebagai putra desa yang pertama kali diterima di perguruan tinggi negeri papan atas. Secara tidak langsung, hal itu mengharumkan nama desa dan SMA tempat Suyoto belajar dulu.

Akhirnya Suyoto tinggal di Surabaya sembari  bekerja sebagai pembantu di rdi rumah dosen. Pak Soehardjo mau menerima Suyoto dengan baik meski tidak kenal sebelumnya.

Namun masih ada keluhan biaya-biaya tambahan lainnya yang membuat Sutoyoberhenti kuliah. Suyoto berpikir bahwa berhenti kuliah lalu bekerja adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

Di tengah situasi yang pilu itu, Suyoto mendapat informasi beasiswa OFP (Overseas Fellowship Program) di BPPT. Suyoto mengikuti segala prosedur dan persyaratan tes hingga nekad terbang ke Jakarta untuk tes dengan modal pas-pasan.

Dari banyaknya anak yang berprestasi dari seluruh Indonesia, Suyoto masuk dalam daftar kandidat calon penerima beasiswa OFP dan diberikan dipilihan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang atau Belanda. Tanpa pikir panjang, Suyoto langsung memilih Jepang sebagai destinasi pendidikan selanjutnya.

Suyoto kuliah pada bulan April 1987 di Industrial and System Engineering, Setsunan University dan lulus dengan gelar Bachelor of Engineer pada Maret 1991. Gelar insinyur dan impian kerja di BPPT seperti impian Suyoto selama ini pun terwujud. Konon di desa, kakeknya sering mendapat ucapan selamat atas kembalinya sang cucu yang sudah menjadi insinyur. Bisa dibayangkan betapa berserinya wajah kakek karena bangga terhadap cucunya, Suyoto Rais.

Pada Februari tahun 1992, Suyoto melanjutkan pendidikannya ke Master Program of Mechanical and System Engineering, Graduate School, Setsunan University dengan beasiswa dari BPPT. Suyoto mengambil jurusan Mechanical System Engineering. Setelah lulus S2, Suyoto melanjutkan S3 di Osaka Prefecture University dengan biaya sendiri. Inilah kali pertama Suyoto untuk membayar biaya pendidikannya sendiri.

Selain cerdas dalam karier pendidikan, Suyoto juga aktif dalam berbagai organisasi yaitu Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Osaka, BINDO Fans Club (BFC) dan lain-lain. Karier kerjanya pun tak kalah hebat. Sosok Suyoto Rais memiliki pengalaman kerja dengan berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang untuk mencari pengalaman. Suyoto sempat bekerja di Denso, Sumitomi Electrik Group, Nidec dan lain-lain. Apalagi ketika kinerja Suyoto sangat baik dan langsung dipercayakan untuk menduduki posisi penting di perusahaan tersebut.

Karier kerja Suyoto yang mengudara tidak serta merta melupakan dirinya dengan Indonesia. Suyoto mulai berpikir untuk bekerja menjadi ekspratriat di negeri sendiri. Selain itu, Suyoto menggalakkan aktivitas Love Indonesia (LOVIN) akibat Indonesia yang mengalami krisis multinasional pada tahun 1998. Kontribusi lain yang dilakukan Suyoto adalah mendirikan pusat produksi makanan halal Indonesia di Jepang yang nantinya mampu mengimpor bahan baku langsung dari Indonesia.